W giy uTs n1cH, wIzZ Me LucK yuAaA
"Halal kan dibunuh?"
Lupakan.
Seriusan, gue ini lagi uts, dan besok matkul standar maba akuntansi, pengantar akuntansi. Stres emang, ini aja gue nulis gara-gara stres besok matkul itu. Bingung mau belajar apa lagi, mana kebagian dosen yang agak-agak pula. Untung abis uts ganti dosen. Paling juga besok pagi lagi gue belajarnya, dan menurut gue yang gitu lebih efektif.
Cara belajar gue memang agak beda dibanding anak pintar yang masuk UI lainnya. Gue belajar dari textbook ya dimana seharusnya dipelajari, di ruang kelas, di lingkungan kampus. Gue paling gabisa belajar di kamar, di rumah, pasti bawaannya mau tidur. Bawaannya mau
Lain gue lain pula calon penulis, calon penulis ya belajarnya latihan nulis, cari referensi, diubah dengan kearifan lokal, seperti gue ini. Gue masih belajar, gue masih cari referensi, masih latihan nulis.
"Bukan latihan nulis huruf bersambung yang pake buku garis 5 itu."Referensi gue dari macem-macem, diantaranya Mbah Sujiwo Tejo dengan kiasan gunung Semeru, Raditya Dika dengan humor dan pesan tersendiri. Gue termasuk yang ngikutin perkembangannya Radit, dari bukunya yang cuma humor, dan beberapa buku terakhir beranjak dewasa seiring umurnya. Gue lihat dari setiap buku ada perkembangan, dan ibarat pemula kayak gue, dari tiap postingan ada perkembangan.
Dan postingan gue beberapa minggu lalu, bukan hanya karena ingin pembaca menggali sendiri, tapi karena gue sendiri kurang dalam menggalinya. Gue belajar, selayaknya manusia lainnya. Gue pernah baca, "Belajar seumur hidup, menjadi murid selamanya". Siapa bilang presiden ga butuh belajar lagi? siapa bilang rektor ga butuh belajar lagi? Itu hakikat manusia, masih banyak yang harus dipelajari seorang ahli fisika, seorang pemuka agama.
Ada kalanya karya seni yang gabisa dipentaskan. Biarkan penikmat seni berimajinasi, tanpa disusupi bayangan sutradara, maka penulis juga seniman, dan seniman, harus jujur. Gue mulai dari sini.
Piss bro~
Comments
Post a Comment